Jumat, 11 Mei 2012

Berharap Ramah Lingkungan dan Ramah Harga dari Bisnis EBT


SENIN, 01 AGUSTUS 2011 00:00 BUDI R MINULYA
Total emisi gas buang meningkat dari 1,42 GT CO2e pada tahun 2000 menjadi 2,95 GT CO2e pada tahun 2020, atau meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat. Sementara subsidi energi fosil semakin meningkat. Oleh karena itu, ke depannya pemerintah akan menjadikan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai prioritas. Melalui strategi: perubahan paradigma pengelolaan energi dengan cara; efisiensi kebutuhan energi, optimalisasi penyediaan dan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), dan energi fosil dipakai sebagai penyeimbang.
 
Demikian dipaparkan Kardaya Warnika, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) yang baru saja menggantikan Dirjen EBTKE yang lama, Luluk Soemiarso. Kardaya menilai permasalahan yang terjadi dalam pengembangan EBT adalah tidak ekonomisnya harga dan minimnya insentif kepada pengusaha.
 
Seperti diketahui, menurut beberapa sumber, kalau saja pemerintah menetapkan harga yang ramah terhadap pengusaha, bukan tidak mungkin bisnis ini bisa memunculkan jutawan baru seiring tingginya permintaan akan produk energi ramah lingkungan. Di China, negara berpenduduk terbesar di dunia, muncul nama miliuner baru setelah sukses memproduksi bahan panel surya melalui perusahaan GCL Poly Energy Holdings.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar